Lady Zahara
Tidak selamanya yang kita harapkan akan menjadi yang terbaik untuk kita. So, mulai sekarang, berdoalah semoga Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita .. Amiin :)
Tidak selamanya yang kita harapkan akan menjadi yang terbaik untuk kita. So, mulai sekarang, berdoalah semoga Allah SWT memberikan yang terbaik untuk kita .. Amiin :)
Aspek Perilaku-Lingkungan sangat penting dalam bidang arsitektur karena dalam merancang, seorang arsitek harus memperhatikan segala aspek perilaku manusia dan juga lingkungannya agar apa yang dirancangnya sesuai atau berfungsi seperti yang diharapkan.
Contohnya, untuk mendesain sebuah pusat belanja untuk kalangan menengah kebawah tentu berbeda dengan perumahan untuk kalangan menengah ke atas. Perilaku masyarakat menengah kebawah yang memiliki gaya hidup beraktivitas secara komunal diruang terbuka sehingga diperlukan sebuah wadah yang dapat dijadikan sebagai tempat interaksi antar masyarakat seperti pasar tradisional. Sedangkan masyarakat menengah keatas yang memiliki gaya hidup beraktivitas secara individual sehingga mereka lebih membutuhkan wadah yang dapat mendukung aktivitas mereka secara cepat seperti pasar modern atau swalayan.
Contoh lain yaitu mendesain suatu perkampungan di daerah pesisir. Lingkungannya yang berair tentu akan membutuhkan sebuah tempat tinggal yang mampu melidungi mereka dari pasang atau banjir. Dengan demikian, perlu dibuat rumah yang berbentuk panggung. Pola perilaku masyarakat yang suka berinteraksi diwujudkan dalam bentuk perumahan yang berdekatan dan suatu tempat yang dapat membuat mereka selalu berinteraksi seperti sebuah darmaga dan balai-balai rapat atau pengajian.
Oleh karena itu, aspek perilaku dan lingkungan merupakan faktor yang sangat penting dalam perancangan arsitektur karena menyangkut dengan kebutuhan paling dasar atau kebutuhan psikologis manusia.
Pendekatan psikologi lingkungan arsitektur dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa suatu bangunan dimanfaatkan tidak sesuai dengan rancangan peruntukannya/fungsinya, atau bangunan yang dimanfaatkan penggunanya setelah dilakukan perubahan tatanan setting fisiknya.
Psikologi lingkungan adalah lahan baru dalam rangkaian pengetahuan yang lahir karena kebutuhan sosial. Hal itu sekarang merupakan bagian dari struktural teorikal yang setara dalam kaidah teorikal yang lain.
Fokus utama psikologi lingkungan adalah hubungan manusia dengan lingkungannya. Namun ini terkadang malah dapat menjadi dikotomi (punya arti mendua) antara personal disatu sisi dengan lingkungan sisi lainnya.
Brent C. Brolin dalam bukunya The Failure of Modern Architecture mengemukakan bahwa salah satu kesalahan terbesar sehingga langgam modern mengalami keruntuhan yakni tidak adanya harmonisasi dan asimilasi antara desain dengan konteksnya
Banyak contoh karya arsitektur yang gagal dalam menampung aspirasi dan apresiasi penggunanya. Contohnya seperti lampu taman yang bentuknya seperti tempat sampah atau tempat sampah yang mirip hiasan taman atau cerobong asap. Sehingga masyarakat salah dalam mempersepsikan fungsinya. Tidak hanya desain kecil yang gagal tetapi ada juga karya besar yang mengalami hal yang sama akibat tidak menggunakan pendekatan psikologi lingkungan arsitektur dalam proses perancangannya.
Seperti karya sang maestro Le Corbusier yang tidak tepat guna di Chandigarh. Kota yang dirancang dengan gaya barat modern, yang memperhatikan kebutuhan manusia akan cahaya, ruang, dan udara ini tentu saja merupakan suatu rancangan yang sangat luar biasa. Namun, apa yang salah dari rancangan ini? Tentu saja kesalahan terbesar yang dilakukan sang maestro adalah tidak memasukkan karakteristik lokal dalam karyanya tersebut seperti kebiasaan berinteraksi masyarakat India di pasar diganti dengan gedung-gedung swalayan yang serba instan. Akibatnya, kota ini menjadi tidak bermakna dan hanya sebagai penanda.
Contoh lainnya yaitu Apartemen Pruitt Igoe di St. Louis, karya yang mendapat penghargaan IAI Amerika ini merupakan model perumahan yang nyaman dengan biaya sewa yang murah bagi masyarakat menengah kebawah. Namun, 15 tahun kemudian bangunan ini dirobohkan karena gagal dan tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat pengguna yang senang berinteraksi sosial. Apartemen ini dirasakan seperti penjara oleh penggunanya, lift hanya berhenti setiap tiga lantai sehingga jarang terjadi interaksi sosial antar pengguna, ujung tangga dan ruangan tangga yang gelap menjadi sarang penjahat, serta halaman rumput yang menjadi tempat sampah.
Oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diharapakan seperti contoh tersebut, hendaknya perancang atau arsitek mengerti terlebih dahulu konteks lingkungan yang akan ia rancang. Misalnya pada perancangan bangunan perpustakaan dengan menempatkan rak buku dekat dengan meja baca agar pengguna yang melihat buku tidak ribut atau mengganggu pembaca buku. Dengan demikian, ciri perpustakaan yang nyaman dan tenang akan dicapai.
Di kehidupan ini, tidak semua yang kita harapkan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mengapa demikian? Allah Maha Tahu.. Hanya Allah yang tau apa yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu, mengapa Allah tidak mengabulkan doa kita? Ya, karena Allah tau, itu bukanlah yang terbaik untuk kita.
Sebenarnya, bukan itu yang ingin saya bahas.Saya hanya sedikit ingin curhat. Curhat tentang beberapa hala yang tidak mengenakkan yang saya rasakan beberapa hari belakangan ini.
Semua ini bermula ketika nilai SPA4 ( Studio Perancangan Arsitektur 4) telah keluar. Saat itu sore hari, 24 Januari 2012, saya sedang menelusuri timeline account Twitter saya. Disana sedang heboh tentang nilai SPA4. Karena ikutan panik dan penasaran, saya pun meminta bantuan sahabat saya, Ami, untuk membuka KHS online saya. Saya mencoba menegarkan diri dengan apapun nilai yang akan diberitahukan Ami.
bersambung….
Taiwan Higher Education Fair 2011 adalah acara yang digelar untuk meningkatkan pertukaran budaya dan pendidikan antara Indonesia dan Taiwan, serta menarik minat pelajar Indonesia menempuh pendidikan di Taiwan. Taiwan Higher Education Fair tahun ini diadakan di tiga kota, yakni Banda Aceh, Yogyakarta dan Surabaya. Seminar mengenai penerimaan mahasiswa ini diadakan pada 1 Oktober di Universitas Syiah Kuala (Banda Aceh), 3 Oktober di Universitas Gajah Mada (Yogyakarta), dan 5 Oktober di Tunjungan Plaza (Surabaya). Berikut adalah cerita saya mengenai kesan menjadi salah satu volunteer di acara ini.
Cerita ini bermula ketika saya membaca postingan kak Suci di sebuah group bahasa inggris di kampus kami, AEC. Saya langsung tertarik dan segera mendaftarkan diri. Saat itu tidak ada perasaan takut sedikitpun. Yang ada di bayangan saya hanya kesenangan akan berinteraksi langsung dengan orang Taiwan. Namun, ketakutan dan grogi yang menggila menyertai saya ketika akan mengikuti test wawancara dalm bahasa Inggris. Sungguh ingin mati rasanya dan sempat tebersit akan penyesalan mengapa saya mendaftar padahal bahasa Inggris saya sangat buruk.
Dukungan teman-teman membuat sedikit nyali saya naik ketika itu. Pulang kuliah Struktur Bangunan Terpadu, saya bersama 3 teman saya langsung meluncur ke Kantor Gubernur, tempat test dilaksanakan. Dengan kegrogian tingkat tinggi, saya akhirnya mendapat giliran tes wawancara setelah menunggu hampir sejaman. Terbata-bata saya menjawab pertanyaan dari para pewawancara. Dan akhirnya saya diterima menjadi salah satu volunteer. Hooorrrrreeeee!!!! Tapi tunggu dulu pemirsa, 100% saya yakin diterima pasti karena jumlah peserta yang mendaftar lebih sedikit dari yang dibutuhkan. -___-“
Singkat cerita, setelah mengikuti berbagai proses, tibalah hari yang saya tunggu-tunggu. Saya hari itu bertugas menjaga stand souvenir.Mengapa stand souvenir? Sayapun tidak tahu. Hahaha.. Hey! Tapi itulah mungkin posisi yang cocok untuk saya dan saya percaya itu. Dengan berjuta rasa membuncah didada, saya menuju AAC Dayan Dawood, tempat acara dilaksanakan. Namun sayang, acara tidak sesuai dengan SOP yang telah dibagikan. Stand souvenir belum ada pagi itu. Saya terlunta-lunta. Hahaha.
Saya senang sekali mengikuti acara ini. Benar-benar pengalaman yang sangat membahagiakan. Bertemu dengan orang-orang Taiwan, berfoto dengan mereka, dan mengumpulkan souvenir pastinya. Hahaha. Namun, ada satu hal yang sangat saya sesalkan, saya gagal menjadi penjual souvenir. Target penjualan tidak tercapai. Saya sangat malu. Down sekali ketika itu. Tetapi apa hendak dikata, semua telah terjadi. Semoga para panitia tetap menerima saya tahun depan.
Demikianlah cerita saya yang sangat rancu. Tulisan yang saya buat di detik-detik batas pengumpulan berakhir. Demi selembar sertifikat~ hahahaha
Hormat Saya,
ZAHARA NURIS
ARSITEKTUR 2009